GEREJA YANG TEGUH DAN YANG MENANG: Belajar dari Kitab Wahyu

Posted: 25 Juli 2013 in Uncategorized

GEREJA YANG TEGUH DAN YANG MENANG

Belajar dari Kitab Wahyu Bagian (2)

Setiap pengikut dari suatu komunitas tertentu dimana pun ditemukan akan diperhadapkan dengan pilihan-pilihan dan dituntut untuk memberikan sumbangsih terhadap komunitas dimana seseorang menggabungkan diri. Tidak jarang pengikut suatu kelompok tertentu berada dalam dilema oleh karena kesulitan untuk mengambil keputusan atas pilihan-pilihan yang ada. Pilihan-pilihan yang dimaksud adalah berhubungan dengan kejelasan identitas seseorang sebagai pengikut suatu kelompok. Kesulitan lebih besar dialami oleh mereka yang tidak mau menggabungkan diri dengan suatu kelompok dan biasanya dialami oleh kelompok kecil (minoritas) dalam suatu lingkungan kemasyarakatan. Tidak jarang juga ditemukan bahwa pengikut suatu kelompok “hidup munafik” dalam kelompoknya. Dimana pada dasarnya seseorang itu tidak bersungguh-sungguh menjadi pengikut kelompok tertentu tetapi juga tidak mau menjadi kelompok oposisi dari suatu kelompok yang lebih besar. Mencari “rasa mana” adalah pilihan tepat bagi kepribadian semacam ini.

Fakta demikian kita temukan dalam kehidupan gereja mula-mula. Orang Kristen pada masa awal dengan jelas membedakan diri dari orang non-Kristen. Berada di kelompok yang terpisah, tersendiri, dan menjadi kelompok yang dianggap memberontak. Pendirian ini memiliki konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari dengan tingkat yang berbeda-beda. Salah satu sumber yang mengungkapkan keadaan demikian adalah Kitab Wahyu. Kitab Wahyu memberikan informasi tentang konsekuensi yang dihadapi orang Kristen atas iman mereka kepada Yesus Kristus. Dalam ulasan singkat ini akan dijabarkan tentang sukacita yang disampaikan Kitab Wahyu kepada Gereja Tuhan dalam dunia ini.

A.  Latar Belakang Kontemporer Kitab Wahyu

Kitab Wahyu ditulis di Asia Kecil menjelang akhir abad pertama sekitar tahun 95-96 M., ketika itu Asia Kecil (negara Turki sekarang) berada di bawah kekuasaan Romawi. Gereja yang ada dalam wilayah ini berada dalam konflik dengan dua kubu yaitu kubu Yahudi dan lingkungan kehidupan Yunani-Romawi. Jadi, Sitz im Leben jemaat di mana kitab ini ditujukan, dipengaruhi oleh hubungan-hubungan mereka dengan kedua kelompk tersebut.[1]

Pertama, yang harus diperhatikan adalah hubungan para pengikut Tuhan dengan orang Yahudi. Dalam Kitab Wahyu ditemukan beberapa ungkapan-ungkapan yang mengindikasikan bahwa ketika Kitab Wahyu ditulis, orang Kristen berada dalam konflik dengan orang Yahudi. Dalam Wahyu 2:9 orang Yahudi disebut sebagai “jemaah iblis” (2:9) dan  Wahyu 3:9: “jemaah iblis, yang menyebut dirinya orang Yahudi”. Perlu difahami bahwa konflik antara orang Kristen dengan orang Yahudi telah terjadi jauh sebelum penulisan Kitab Wahyu yaitu sejak awal gerakan kekristenan muncul. Penganiayaan yang dilakukan oleh Saulus sebelum ia mengalami pertobatan di jalan menuju Damsyik (Kis. 9) membuktikan adanya konflik ini sejak semula. Konflik tersebut semakin tajam ketika orang Kristen menolak untuk bergabung dengan orang Yahudi dalam perang melawan Romawi pada tahun 66-70, yang mencapai puncaknya pada kehancuran Bait Suci dan Kota Yerusalem yang mengakibatkan orang Kristen ditolak dari sinagoge.

Hal ini memperburuk posisi orang Kristen pada waktu itu. Sebab kehadiran orang Kristen dalam lindungan Agama Yahudi, memberikan kebebasan untuk menjalankan berbagai aktifitas religius, sosial, politik, dan ekonomi. Hal-hal tersebut merupakan perlakuan khusus bagi Agama Yahudi dari pemerintah Romawi karena dianggap sebagai agama yang resmi. Karena tidak mendapat perlindungan yang demikian, orang Kristen akhinya menerima perlakuan yang semena-mena. Tidak sedikit fitnah yang dilemparkan orang Yahudi kepada orang Kristen sehingga mengalami penganiayaan sebagai wujud dendam terhadap orang Kristen.

Kedua, gerakan kekristenan mula-mula tidak hanya berinteraksi dengan komunitas-komunitas Yahudi. Seiring penyebarluasan kekristenan yang bersifat trans-budaya dan suku bangsa, kekristenan tidak punya pilihan dan harus berhadapan dengan bangsa-bangsa dari latar belakang penyembah berhala (paganisme). Penyembahan berhala telah menjadi ciri kehidupan sosial masyarakat Yunani-Romawi yang mempunyai dampak serius dalam jemaat mula-mula.

Ada dua bentuk paganisme yang digambarkan dalam Kitab Wahyu:

  • Penyembahan Berhala

Beberapa sebutan-sebutan yang menunjuk bahwa pengaruh paganisme sangat kuat dalam jemaat mula-mula terutama di Asia Kecil. Hal ini terdapat dalam pasal 2-3 seperti: “jemaah setan” (2:9; 3:9), “takhta setan” (2:13), “perzinahan” (2:14, 20), dan makan “persembahan berhala” (2:14, 20). Ketujuh kota yang menjadi alamat surat Yohanes ini adalah pusat komersial dan sekaligus pusat penyembahan berhala.

  • Penyembahan Kaisar (The Imperial Cult)

Dalam kekaisaran Romawi, seorang kaisar dianggap sebagai dewa atau yang ilahi. Pada mulanya hal ini dilakukan kepada para pahlawan dalam dunia helenistis yang telah gugur. Pahlawan yang telah mati dianggap berubah menjadi dewa atau ilahi. Hal tersebut kemudian diadopsi oleh orang Romawi untuk diterapkan kepada kaisarnya baik ia hidup maupun mati. Perbuatan demikian merupakan kejijikkkan bagi orang Kristen yang ada di Asia Kecil dan juga bagi orang Yahudi. Bagi orang Kristen hal ini menjadi masalah bukan saja hanya bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi karena hal tersebut menjadi kriteria untuk mementukan kesetiaan mereka kepada negara atau kepada Yesus. Menyembah kepada Kaisar atau menyembah kepada Yesus. Menyembah kepada Kaisar berarti menyangkal Yesus sebagai satu-satunya yang layak disembah. Menyembah kepada Yesus dan sekaligus menyembah kepada Kaisar adalah sinkretisme. Menyembah Yesus tanpa melakukannya untuk Kaisar, taruhannya adalah nyawa.

Penjelasan di atas cukup memberikan bukti akan keadaan orang Kristen yang begitu sulit. Diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang sulit. Dalam situasi yang demikian, Kitab Wahyu dalam beritanya hadir bagai “mata air yang mengalir mengairi padang tandus”. Hal apakah yang membuat jemaat Kristen pada zaman gereja mula-mula begitu tegar menghadapi tantangan yang sangat berat? Sebelum membahas persoalan tersebut, terlebih dahulu saya memberikan uraian profil tujuh jemaat alamat Kitab Wahyu.

B.  Tujuh Surat kepada Tujuh Jemaat

Diragukan bahwa Kitab Wahyu hanya ditujukan kepada tujuh jemaat. Hal ini dipengaruhi oleh kemunculan angka tujuh yang sering sekali dalam Kitab Wahyu sehingga tidak boleh ditafsirkan secara harafiah. Ketujuh jemaat tersebut adalah Efesus, Smirna, Pargamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia (1:11). Rute di mana jemaat itu berada berbentuk oval. Yang menguatkan bahwa kitab ini tidak ditujukan kepada hanya tujuh jemaat sebab jemaat Kolose dan Hierapolis (Kol. 4:14) yang ada didekat Laodikia diabaikan. Kurang lebih 70 mil di sebelah utara Pargamus terdapat jemaat Troas di mana Paulus pernah berkhotbah (Kis. 20:5-12; 2 Kor. 2:12) pun tidak masuk dalam daftar ini.

Lalu apa artinya? Angka tujuh melambangkan kegenapan atau kelengkapan, maka tujuh jemaat “mewakili jemaat universal; ketujuh surat ini dialamatkan ke setiap tempat di mana umat Allah berkumpul untuk beribadah, bersekutu, dan melayani. Angka tujuh jangan ditafsirkan secara absolut tetapi lebih sebagai simbol yang berarti lengkap”.

Pertanyaan berikut berhubungan dengan ketujuh surat adalah apakah Yohanes mengirim surat kepada tujuh jemaat tersebut dengan masing-masing satu surat? Ada anggapan yang mengatakan bahwa ketujuh surat tersebut dahulu ditulis secara terpisah sebelum akhirnya disatukan dan disusun hingga mencapai bentuk akhirnya seperti sekarang ini. Pendapat ini tidak bisa diterima sebab beberapa pertimbangan berikut ini:[2]

1.  Meski ditujukan kepada jemaat dan pribadi, surat-surat itu menjadi bagian seluruh jemaat (Bandingkan dengan surat-surat umum yang ditujukan kepada jemaat universal)

2.  Perintah Tuhan kepada Yohanes untuk menulis di pasal 1 merupakan introduksi bagi ketujuh surat tersebut

3.  Perintah Tuhan kepada Yohanes adalah bukan hanya menulis surat tetapi menulis sebuah kitab dan mengirimkannya kepada jemaat (1:11)

4.  Kitab Wahyu merupakan satu kesatuan. Janji Allah dinyatakan kepada semua jemaat (lih. 2:7, 11, 17, 26; 3:5, 12, 21; 22:12-13).

Persoalan ini akan semakin terang apabila dilihat dari sudut pandang penafsiran paralelisme progresif yang mengungkapkan kesatuan kitab. Dua bagian utama saling melengkapi satu sama lain dan tujuh seksi yang ada mengungkapkan peralihan dari penglihatan ke penglihatan. Penglihatan tersebut semakin jelas dan terang pada akhir setiap seksi bahkan keseluruhan Kitab Wahyu. Ajaran-ajaran dari ketujuh paralel tersebut mengungkapkan satu kesatuan kitab dan tujuan yang sama, menyatakan bahwa Kristus dan jemaat-Nya adalah pemenang, tidak terkalahkan oleh si Iblis. Dalam surat kepada tujuh jemaat terdapat persamaan sbb:[3]

  1. Salam kepada masing-masing jemaat (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14)
  2. Aspek penampakkan Tuhan kepada Yohanes di Pulau Patmos (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14)
  3. Evaluasi kondisi kesehatan rohani jemaat (2:2-3, 9, 13, 19; 3:1, 8, 15)
  4. Kata-kata pujian atau teguran (2:4-6, 9, 14-15, 20; 3:1-4, 8-10, 16-17)
  5. Kata-kata peringatan (2:5, 10, 16, 21-25; 3:2-3, 11, 18-20)
  6. Janji bagi yang menang (2:7, 11, 17, 26-28; 3:5, 12, 21)
  7. Perintah untuk mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat (2:7,11,17,29; 3:6, 13, 22)

Hal yang sangat penting untuk kita fahami dari ketujuh jemaat tersebut adalah kelebihan dan kekurangan masing-masing jemaat. Profil tujuh jemaat ini merupakan gambaran akan gereja Kristen di zaman modern ini. Hal itu tidak bisa disangkal.

C.  Perang dan Kemenangan

Kehadiran gereja dalam dunia menghadirkan situasi yang tegang dan tidak bisa dielakkan. Apa yang dialami gereja pada zaman ini – dianiaya, digusur, diusir dari tempatnya, dilecehkan, dll – telah dimulai sejak gereja mula-mula. Kekristenan tidak menjamin ketentraman selama masih dalam dunia ini. Sebab orang Kristen pada dasarnya adalah pendatang atau perantau atau musafir yang melewati dunia ini dalam perjalanan panjangnya. Hal ini tidak aneh sebab dari awal sudah dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa pengutusan-Nya adalah pengutusan yang berbahaya dengan resiko yang cukup tinggi, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:16, Luk. 10:3).

Yesus telah bersabda, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu” (Yoh. 15:18). Hal ini menunjukkan bahwa orang Kristen pasti dibenci oleh dunia ini. Peristiwa yang dialami oleh gereja mula-mula tepat benar dengan apa yang Tuhan Yesus telah sabdakan.

Kitab Wahyu bercerita tentang perlawanan yang dihadapi oleh orang Kristen dari orang-orang duniawi. Perwananan di antara kedua belah pihak pertama-tama ditandai oleh gambaran-gambaran yang berkontras satu sama lain: Kristus-Iblis, terang-gelap, kehidupan-kematian, kasih-kebencian, sorga-neraka. Kontras di antara kedua kutub ini memenuhi seluruh Kitab Wahyu.[4]

Kehendak Allah dinyatakan kepada Anak di otoritas dilimpahkan kepada Anak untuk melakukan kehendak-Nya (1:1). Di pihak lain Iblis memberikan otoritas kepada binatang yang keluar dari dalam laut (13:2). Yesus duduk di atas takhta-Nya (3:21) demikian pula dengan Iblis (2:13; 16:10). Dalam pasal 12 terlihat seorang perempuan yang berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dari dia belas bintang di atas kepalanya. Perempuan itu hendak melahirkan dan seekor naga merah padam besar hendak menelan Anak yang dilahirkan itu. Akan tetapi perempuan  itu melarikan bayinya ke padang gurun untuk menyelamatkannya. Naga itu tidak sendirian, ia dibantu oleh binatang yang keluar dari dalam laut dan oleh binatang yang keluar dari dalam bumi (psl. 13).

Di tempat lain kita menyaksikan bahwa Iblis, binatang, dan nabi palsu dilempar ke dalam lautan api untuk mengalami penyiksaan selama-lamanya (20:10, 14). Yesus memegang kunci maut dan kerajaan maut (1:18), dan Iblis memegang anak kunci lobang jurang maut (9:1). Tetapi Yesus akan menang secara mutlak sedangkan Iblis beserta para pengikutnya akan dihukum.

Kontras lain dapat kita lihat: orang percaya menerima tanda tertentu dan memakai nama Anak Domba dan Bapa pada dahi mereka (14:1), sedangkan orang yang tidak percaya memakai angka 666 sebagai nama dari binatang itu (13:17-18). Dalam jemaat di Efesus kita juga dapat melihat perlawanan antara rasul Tuhan dan rasul palsu (2:2). Ada pula peperangan antara Mikhael dan malaikat-malaikatnya melawan naga yang dibantu juga oleh malaikat-malaikatnya (12:7-9). Dan pada akhirnya Kristus mendapatkan kemenangannya yang mengalahkan balatentara Iblis beserta pengkut-pengikutnya (19:11-12).

D.  Kesimpulan

Kitab Wahyu memberikan kepada kita gambaran perjalanan gereja Tuhan dalam dunia ini, menyangkut apa yang telah terjadi, apa yang sedang, dan apa yang akan selalu dihadapi gereja. Gereja akan mengalami penganiayaan dan penderitaan tetapi akan memperoleh kemenangan. Gereja harus berjuang pula dan tentunya tidak berjuang sendiri. Mereka berperang bersama dengan Kristus sebagai panglima perang dan yang memimpin perang.

Gereja pada zaman ini penting untuk mempelajari Kitab Wahyu dengan lebih tekun sebab Kitab Wahyu memberikan gambaran perjalanan yang harus dialami oleh gereja dan menyatakan kemenangan yang pasti didapatkan gereja. Kepastian kemenangan ini tentunya akan memberikan penghiburan yang sejati sebab kemenangan itu adalah kemenangan bersama dengan Kristus. Perjuangan orang percaya sungguh berat tetapi mereka pasti menang dan akan memperoleh mahkota kehidupan bahkan mereka “lebih dari pemenang” (Rm. 8:37).


[1] Penjelasan detail tentang hubungan kekristenan dengan kedua kubu ini, lihat Tertius Yunias Lantigimo, “Kitab Wahyu: Sebuah Kajian Sosial” dalam Apokaliptik: Kumpulan Karangan Simposium Ikatan Sarjanan Biblika Indonesia 2006 (Jakarta: LAI, 2007), hlm. 88-101

[2] Kistemaker, 116-117

[3] Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, hlm. 10, bdk Hendriksen, Lebih dari Pemenang, hlm. 66

[4] Kistemaker, hlm. 6-7

Komentar
  1. Walas Success mengatakan:

    Tulisan yang cukup menarik, gan…. teruskan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s