Mengenal Kitab Wahyu

Posted: 30 April 2012 in Uncategorized
Tag:, , ,

A. Apokaliptik dan Sastra Apokaliptik

1. Pengertian Apokaliptik

Kitab Wahyu adalah kitab terakhir dalam Perjanjian Baru, bahkan menjadi penutup kanon Alkitab. Judul kitab ini dalam bahasa Yunani adalah “apokalypsis” (apokaluyiV) artinya penyingkapan dan biasanya menunjuk pada apa yang akan terjadi ke depan. Judul kitab ini di ambil dari 1:1. Judul tersebut tidak terlalu melegakan karena sejenak tidak sesuai dengan isinya. Judulnya penyingkapkan, tetapi isinya penuh dengan teka-teki. Banyak hal di dalamnya yang membingungkan dengan berbagai figur, gambar, angka-angka, simbol, dll. Hendaknya hal ini tidak menyiutkan niat kita untuk mempelajarinya dengan seksama. Kitab ini tetap merupakan kitab yang menyatakan sesuatu yang akan terjadi dan menjadi penghiburan bagi setiap orang percaya. Penyingkapan dalam kitab ini merupakan tindakan ilahi. Dalam menyampaikan maksud hati-Nya, Allah memakai berbagai gambaran dan lukisan di mana gambaran dan lukisan tersebut harus kita artikan sedemikian rupa, sehingga tidak ada kesalahan apapun.

2. Sastra Apokaliptik

Berbicara tentang jenis sastra yang bersifat apokaliptik, kita menunjuk kepada tulisan-tulisan keagamaan dari lingkungan Yahudi-Kristen yang dihasilkan antara abad ke-2 SM sampai abad ke-3 M. Tulisan-tulisan tersebut memiliki ciri tersendiri yang penekanan uatamanya berbau eskatologis dan cenderung muncul dalam periode-periode kritis. Ungkapan-ungkapan dalam tulisan-tulisan ini agak sulit dipahami oleh pembaca modern. Ide yang disampaikan oleh penulis diutarakan melalui mimpi-mimpi gaib yang menakjubkan, bersifat khayalan dengan binatang-binatang yang bertanduk panjang, ular-ular naga yang menyemburkan api, orang-orang berkuda yang misterius, raksasa-raksasa yang menakutkan, dll.

Pewahyuan merupakan hal yang sangat penting bagi literatur apokaliptik. Pewahyuan dapat terjadi secara visual, melalui percakapan ataupun melalui pengalaman-pengalaman pelihat. Pewahyuan tersebut sangat menekankan dimensi supranatural yang disajikan dengan menggunakan nama tokoh lain yang hidup lama sebelumnya. Penulis asli memilih seorang tokoh yang besar supaya wibawa tulisannya diakui. Pendek kata, tulisan-tulisan bergaya apokaliptik bersifat pseudominus. Satu-satunya tulisan apokaliptik dalam Perjanjian Baru yang lahir dari lingkungan Kristen adalah Kitab Wahyu, hanya yang membuat berbeda adalah Kitab Wahyu tidak pseudominus. Dalam Perjanjian Lama juga terdapat kitab yang memakai gaya ini adalah Kitab Daniel.

B. Penulis Kitab

Penulis Kitab Wahyu memperkenalkan dirinya dengan nama Yohanes (1:1, 4, 9; 22:8). Menyatakan diri sebagai “hamba Yesus Kristus” (1:1), “saudara dan sekutumu dalam penderitaan” (1:9), dan sebagai “saksi mata” (22:8). Akan tetapi Yohanes manakah yang dimaksud? Sebab, dalam Perjanjian Baru tokoh yang bernama Yohanes sangat banyak: Yohanes Pembaptis, Yohanes Rasul anak Zebedeus yang juga sering disebut “murid yang dikasihi”, Yohanes yang memperkenalkan diri dalam surat 2&3 Yohanes sebagai penatua, dan Yohanes Markus. Jadi dapat disimpulkan bahwa nama Yohanes sangat populer di antara orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru. Persoalannya adalah Yohanes mana yang dikaitkan dengan penulis Kitab Wahyu?

Yohanes, itulah nama penulis Kitab Wahyu. Anggapan tradisional menunjuk Yohanes Rasul sebagai penulis kitab ini. Akan tetapi mengapa penulis tidak melakukan hal yang sama seperti dalam Injil Yohanes dan 1 Yohanes dan memperkenalkan diri sebagai penatua pada 2&3 Yohanes jika kita harus menyamakan dia dengan Rasul Yohanes? Penulis melakukan hal ini oleh karena ia cukup dikenal oleh jemaat di seluruh Asia. Penulis tidak memberikan embel-embel pada namanya karena jemaat sudah tahu siapa yang dimaksud dan tidak menyebut diri sebagai rasul ia “menulis kitab ini dalam kapasitas sebagai pelihat, yang diberi penyataan akan berbagai penglihatan itu (bdk. Yoh. 15:27; Kis. 1:22-23; 1Kor. 9:1)”.

Hanya Kitab Wahyu satu-satunya yang menyatakan diri dengan nama Yohanes sebagai penulis di antara kitab-kitab lainnya (Injil Yohanes dan surat-surat Yohanes) yang sudah diterima dan menjadi tradisi ditulis oleh Yohanes rasul atau Yohanes anak Zebedeus. Mengapa ia tidak menyatakan diri sebagai “rasul” dalam Kitab Wahyu adalah hal yang aneh. Seandainya itu dia lakukan maka otoritasnya dihadapan jemaat semakin kokoh. Hal ini dapat dikaitkan dalam perkataan-perkataan penulis Kitab Wahyu yang menyatakan diri sebagai “nabi” yang mendapat penglihatan dari Allah. Seperti yang dikatakan oleh Ben Whiterington, “Otoritas penglihatan itu berasal dari Yesus dan Yohaneslah sang juru bicara – artinya, ia memancarkan otoritas seorang nabi yang diperoleh dari Tuhan semata”. Dari perkataan Ben Witherington tersebut, kita dapat menarik kesimpulkan yang berbeda dengan kesimpulannya bahwa penulis Kitab Wahyu tidak perlu memperkenalkan diri sebagai “rasul”, oleh karena ia memancarkan otoritas “nabi” (pelihat) yang mendapat penglihatan dari Allah. Tokoh utamalah yang lebih ditonjolkan penulis yaitu Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Statusnya sebagai pelihat lebih mengutamakan dan mengedepankan otoritas Yesus sebagai pemberi wahyu yang ia terima. Hal ini dapat dilihat dari hubungan Kitab Wahyu dengan Perjanjian Lama yang tidak dapat dipisahkan. Groen mengatakan bahwa Yohanes dipanggil menjadi nabi sama seperti nabi-nabi dalam Perjanjian Lama sehingga lambang-lambang dalam Kitab Wahyu berakar dalam kitab-kitab para nabi. Penglihatan yang diterima Yohanes sama seperti yang diterima oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama.

C. Tujuan Penulisan

Jemaat yang menerima Kitab Wahyu adalah jemaat yang berada dalam masa penganiayaan. Kitab ini dituliskan untuk “menghibur Gereja yang militan dalam perjuangannya melawan kekuatan kejahatan. Kitab ini penuh dengan pertolongan dan penghiburan bagi orang-orang Kristen yang teraniaya dan menderita. Bagi mereka diberikan jaminan bahwa Allah melihat air mata mereka (7:17; 21:4); doa-doa mereka sangat berpengaruh dalam berbagai urusan dunia (8:3-4) dan kematian mereka sangat berharga dalam pemandangan-Nya. Kemenangan mereka yang terakhir dijamin (15:2); darah mereka akan dibalaskan (19:2); Kristus mereka hidup dan memerintah untuk selama-lamanya”.

D. Penanggalan Kitab

Ada dua alternatif berhubungan dengan penanggalan kitab ini. Penanggalan lebih awal merujuk pada tahun 60-an, diperkirakan pada zaman pemerintahan Kaisar Nero (64-68 M) dan penanggalan yang belakangan merujuk pada tahun 90-an, diperkirakan pada zaman tahun-tahun terakhir pemerintahan Kaisar Domitianus (95-96).

Penanggalan lebih awal, dipegang oleh misalnya Jakob P. D. Groen, dengan beberapa alasan. “Kota besar … di mana juga Tuhan mereka disalibkan” dalam 11:8, tidak lain menunjuk pada Kota Yerusalem. Artinya Kitab Wahyu ditulis sebelum Yerusalem diruntuhkan pada tahun 70, sehingga memungkinkan penanggalan lebih awal. Akan tetapi orang lain menolak penafsiran “kota besar” yang menunjuk kepada Yerusalem. Kistemaker mengatakan bahwa “kota besar” harus ditafsirkan secara simbolis sebab Yerusalem mengandung muatan rohani atau kiasan dan sering disebut kota suci di mana umat Allah tinggal. Yerusalem disebut besar bukan kudus. Kota besar dalam Kitab Wahyu merujuk pada Babel (14:8, 17:8, 18:2, 10, 16, 18-19, 21). Jadi  kota besar tersebut menunjuk kepada tempat berdiamnya orang-orang yang melawan kehendak Allah dan terus menyalibkan Tuhan (Ibr. 6:6).

Berdasarkan kesaksian Irenius, murid Polikarpus dan Polikarpus adalah murid Rasul Yohanes, menunjuk pada khir pemerintahan Domitianus ketika menafsirkan Wahyu 13:18. Semasa hidupnya Domitianus mengangkat diri sebagai objek penyembahan dan diberi gelar “dominus et deus” (tuhan dan allah). Hal ini merupakan fenomena utama di Efesus sehingga membawa kita pada pemahaman bahwa kitab ini ditulis pada akhir masa pemerintahan Domitianus.

E. Latar Belakang Kontemporer Kitab Wahyu

1. Latar Belakang Kondisi Sosial Asia Kecil

Kitab Wahyu ditulis di Asia Kecil menjelang akhir abad pertama sekitar tahun 95-96 M., ketika itu Asia Kecil (negara Turki sekarang) berada di bawah kekuasaan Romawi. Gereja yang ada dalam wilayah ini berada dalam konflik dengan dua kubu yaitu kubu Yahudi dan lingkungan kehidupan Yunani-Romawi. Jadi, Sitz im Leben jemaat di mana kitab ini ditujukan, dipengaruhi oleh hubungan-hubungan mereka dengan kedua kelompk tersebut.

a. Konflik dengan Orang Yahudi

Beberapa ungkapan-ungkapan dalam Kitab Wahyu yang mengindikasikan bahwa ketika Kitab Wahyu ditulis, orang Kristen berada dalam konflik dengan orang Yahudi. Ungkapan-ungkapan tersebut misalnya “jemaah iblis” (2:9) dan “jemaah iblis, yang menyebut dirinya orang Yahudi” (3:9). Akan tetapi konflik antara orang Kristen dengan orang Yahudi telah terjadi jauh sebelum penulisan Kitab Wahyu. Orang Kristen mengalami penganiayaan dari orang Yahudi sejak awal berdirinya kekristenan. Penganiayaan yang dilakukan oleh Paulus sebelum ia mengalami pertobatan di jalan menuju Damsyik (Kis. 9) membuktikan adanya konflik ini sejak semula. Konflik tersebut semakin tajam ketika orang Kristen menolak untuk bergabung dengan orang Yahudi dalam perang melawan Romawi pada tahun 66-70, yang mencapai puncaknya pada kehancuran Bait Suci dan Kota Yerusalem. Akibatnya orang Kristen ditolak dari sinagoge.

Hal ini memperburuk posisi orang Kristen pada waktu itu. Sebab kehadiran orang Kristen dalam lindungan Agama Yahudi, memberikan kebebasan untuk menjalankan berbagai aktifitas religius, sosial, politik, dan ekonomi. Hal ini merupakan perlakuan khusus bagi Agama Yahudi dari pemerintah Romawi. Agama Yahudi dianggap sebagai agama resmi dalam Kekaisaran Romawi. Karena tidak mendapat perlindungan yang demikian, orang Kristen akhinya menerima perlakuan yang semena-mena. Tidak sedikit fitnah yang dilemparkan orang Yahudi kepada orang Kristen sehingga mengalami penganiayaan sebagai wujud dendam terhadap orang Kristen.

b. Konfilk dengan Masyarakat Pagan

Penyembahan berhala telah menjadi ciri kehidupan sosial masyarakat Yunani-Romawi yang menpunyai dampak serius dalam jemaat mula-mula. Ada dua bentuk paganisme yang digambarkan dalam Kitab Wahyu:

  • Penyembahan Berhala

Beberapa sebutan-sebutan yang menunjuk bahwa pengaruh paganisme sangat kuat dalam jemaat mula-mula terutama di Asia Kecil. Hal ini terdapat dalam pasal 2-3 seperti: “jemaah setan” (2:9; 3:9), “takhta setan” (2:13), “perzinahan” (2:14, 20), dan makan “persembahan berhala” (2:14, 20). Ketujuh kota yang menjadi alamat surat Yohanes ini adalah pusat komersial dan sekaligus pusat penyembahan berhala.

  • Penyembahan Kaisar (The Imperial Cult)

Dalam kekaisaran Romawi, seorang kaisar dianggap sebagai dewa atau yang ilahi. Pada mulanya hal ini dilakukan kepada para pahlawan dalam dunia helenistis yang telah gugur. Pahlawan yang telah mati dianggap berubah menjadi dewa atau ilahi. Hal kemudian diadopsi oleh orang Romawi untuk diterapkan kepada kaisarnya baik ia hidup maupun mati. Hal ini merupakan kejijikkkan bagi orang Kristen yang ada di Asia Kecil dan juga bagi orang Yahudi. Bagi orang Kristen hal ini menjadi masalah bukan saja hanya bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi hal tersebut menjadi kriteria untuk mementukan kesetiaan mereka kepada negara.

3. Pola Kitab Wahyu

a. Angka-angka

Hampir dalam setiap pokok pembicaraan Kitab Wahyu kita menemukan penggunaan angka-angka, sehingga penting sekali untuk memahami pemakaian angka tersebut dan artinya. Angka tujuh adalah yang paling menonjol sehingga tidak bisa ditafsirkan secara harfiah tetapi harus dipahami sebagai ide yang menyatakan totalitas dan kegenapan. Satu menyatakan kesatuan (bdk. Ul. 6:4). Dua adalah untuk mengesahkan kesaksian di pengadilan. Angka tiga sebagai angka ilahi yang menunjuk kepada Allah Tritunggal. Angka empat sering menunjuk pada empat makhluk hidup, empat malaikat, empat penjuru Bumi, empat arah angin dll. Angka empat melukiskan ciptaan Allah. Lima adalah angka yang tidak memiliki banyak arti simbolis. Angka enam menunjuk kepada musuh Allah dan umat-Nya yaitu Iblis. Sepuluh adalah angka sempurna di dalam sistem bilangan desimal. Angka dua belas melukiskan umat Allah yang berarti kesempurnaan. Seribu merujuk kumpulan orang banyak. 12.000 stadia adalah panjang, lebar, dan tingginya Yerusalem Baru, merujuk kesempurnaan bentuk kubus (21:1).

b.  Kontras

Dalam Kitab Wahyu juga kerap muncul du hal yang pertentangan: Kristus-Iblis, terang-gelap, kehidupan-kematian, kasih-kebencian, sorga-neraka. Allah Tritunggal dinyatakan Yohanes sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus (lht. 1:4-5) yang dikontraskan dengan tritunggal Iblis: Iblis, binatang buas, dan nabi palsu (ps. 12-13). Disepanjang Kitab Wahyu, kontras ini selalu ditemukan.

c. Penekanan

Prinsip pengulangan untuk memberi penegasan dan kejelasan sering ditemui dalam Kitab Wahyu. Dalam Alkitab, hal ini sering ditemui. Ketika Allah memanggil Musa di semak belukar yang menyala-nyala: “Musa, Musa” (Kel. 3:4), perkataan Yesus kepada Petrus: “Simon, Simon” (Luk. 22:31), ketika Tuhan menobatkan penganiaya jemaat-Nya: “Saulus, Saulus” (Kis. 9:4). Orang Yahudi melakukan pengulangan tersebut untuk menekankan arti sebuah konsep. Ini jelas sekali dalam kitab-kitab hikmat, khususnya Mazmur dan Amsal. Penekanan yang demikian juga digunakan dalam Kitab Wahyu. Perhatikan surat kepada jemaa di Pargamus:

Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus (Why. 2:14-15).

Dua golongan pengajar sesat yang disebutkan dalam ayat ini adalah Bileam dan Nikolaus. Yang ditekankan Yohanes dalam bagian ini  adalah bahwa kedaunya merupakan pengajar sesat, tidak ada perbedaan di antara mereka. Dahulu Bileam ingin mengalahkan orang Israel dengan cara menipu. Hal yang sama dilakukan oleh Nikolaus, masuk di dalam jemaat dengan membawa ajaran yang tidak benar. Jadi, keduanya menyatakan maksud yang sama: ingin menaklukkan umat Tuhan.

5. Bahasa Kiasan dan Simbolisme dalam Kitab Wahyu

Kitab Wahyu adalah kitab yang penuh dengan simbol. Hal inilah yang membuat kitab ini menjadi kurang menarik dan membingungkan. Simbol-simbol yang digunakan penulis berupa benda-benda yang ada di alam, nama dan pribadi, angka, warna, dan makhluk. Sedikit memudahkan bagi kita ketika Yohanes menafsirkan sendiri simbol yang ia gunakan. Misalnya ia menyebut si ular tua dan langsung menunjukkan kepada kita maksud simbol tersebut yang menunjuk kepada Iblis dan satan (12:9). Demikian pula dengan “air”, ia menjeaskan sebagai “bangsa-bangsa dan rakyat banyak dan kaum dan bahasa” (17:15). Akan tetapi hal ini tidak dilakukan oleh penulis di setiap simbol yang ia gunakan bahkan sebagian besar simbol dalam Kitab Wahyu tidak memiliki penjelasan terhadap simbol-simbol yang ia gunakan.

Beberapa lambang lain yang mudah untuk ditafsirkan seperti, “seorang serupa anak manusia” (1:13-18) ialah Kristus sendiri. Ia telah mati dan hidup utuk selama-lamanya (ayt. 18). Tujuh kaki dian dari emas adalah ketujuh jemaat (1:20). Naga yang besar (12:9) ialah Iblis. Tujuh kepala (17:9) adalah tujuh gunung di mana perempuan itu duduk.

Lambang yang digunakan Yohanes berasal dari berbagai sumber. Sumber utamanya adalah Perjanjian Lama. Kadang kala ia mengambil lambang dari apokaliptik atau mitologi kuno. Lambang yang digunakan Yohanes tidak mesti memiliki arti yang sama dengan sumber lambang itu. Lambang-lambang itu dapat mengalami perubahan dari sumbernya karena mengalami perubahan melalui ilham yang menghasilkan bentuk yang baru.

Hal yang harus diperhatikan juga adalah detail-detail dari simbol tersebut. Kita tidak mesti memberikan interpretasi yang lebih dalam, kecuali detail-detail tersebut menuntut keharusan untuk mengeluarkan makna dari simbol tersebut. Yang lebih penting adalah ide sentral dari simbol tersebut tanpa melepaskan detail-detail dari kesatuannya. Detail-detail harus diinterpretasikan dalam keserasiannya dengan ide sentral dari suatu simbol. Kita dapat mengambil contoh dari pasal 21-22 tentang Yerusalem yang Baru. Ide sentral dari bagian ini adalah persekutuan sempurna dengan Allah. Detail-detail yang muncul dalam bagian ini seperti, tembok, fondasi, sungai, pintu gerbang, dsb., melukiskan kemuliaan sebagai karakter persekutuan tersebut.

Pertanyaan yang harus dijawab kembali adalah apakah simbol tersebut menunjuk pada peristiwa khusus dalam sejarah, tanggal tertentu, tokoh tertentu, atau apa?

Untuk itu dibedakan dua simbol yaitu simbol, yang menunjuk pada awal era baru atau simbol tersebut menunjuk pada akhir perjalanan era baru. Ada simbol yang menunjuk pada peristiwa khusus dan tidak mungkin terulang lagi di dalam sejarah setelah peristiwa itu. Sebagai contoh: perempuan yang disebut dalam 12:1-5, yang melahirkan seorang laki-laki, menunjuk pada gereja yang mengemukakan Kristus. Atau tentang tuaian ganda (14:15), menunjuk pada penghakiman terakhir.

Sejumlah besar simbol yang muncul dalam Kitab Wahyu terjadi di antara kedatangn Kristus yang pertama dan kedatangan yang kedua. Simbol-simbol untuk hal ini dapat kita sebutkan seperti kaki dian, materai, sangkakala, cawan, dll. Hampir tidak mungkin mencocokkan suatu simbol dengan suatu peristiwa. Ribuan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi yang menunjukkan pembawaan-pembawaan tertentu yang mirip dengan simbol. Maka hampir tidak mungkin mencocokkan suatu simbol dengan suatu peristiwa tunggal. Hal ini tidak membuat kitab ini menjadi “kitab yang tertutup”. Lalu bagaimana kita memahami simbol-simbol tersebut?

Untuk hal ini, kita perlu menyimak pendapat William Hendriksen, “Berdasarkan pada simbol-simbol itu sendiri, seperti yang dinyatakan dalam Wahyu, kita tiba pada kesimpulan yang sangat signifikan ini, yaitu, bahwa materai, sangkakala, cawan, dan lukisan-lukisan serupa, tidak menunjuk kepada peristiwa atau detail tertentu dalam sejarah, tetapi pada prinsip-prinsip yang sedang beroperasi di sepanjang sejarah dunia, khususnya di sepanjang era Perjanjian Baru ini. … Simbol-simbol ini menunjuk kepada seri kejadian, pada prinsip-prinsip perilaku manusiawi dan satanik dan pemerintahan moral ilahi. Simbol-simbol itu menunjuk kepada hal-hal yang terjadi terus berulang-ulang, sehingga Kitab Wahyu selalu tidak ketinggalan zaman.”

6. Sifat Kitab Wahyu

Memahami gaya sastra dalam setiap kitab merupakan pokok yang tidak bisa dilangkahi dalam menafsirkan suatu bagian Alkitab, demikian halnya dengan Kitab Wahyu. Akan tetapi berbeda dengan kitab lain dalam Alkitab, Kitab Wahyu adalah kitab yang unik karena perpaduan dari tiga bentuk sastra, yaitu wahyu, nubuat, dan surat. Jadi, sangat penting sekali untuk memahami ketiga bentuk sastra itu yang terpadu dalam satu kitab ini.

a. Kitab Wahyu sebagai Apokalipsis

Dalam zaman antara 200 SM sampai 200 M, sejumlah apokalips sudah dikenal di lingkungan Yahudi dan Kristen. Di antara kitab-kitab tersebut, Kitab Wahyu merupakan yang terunik dan memiliki sifat-sifat yang sama dengan kitab-kitab apokalipsis lainnya. Sifat-sifat yang sama tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Sumber utama kitab apokalipsis adalah nubuat Perjanjian Lama. Sebagaimana halnya dengan nubuat, apokalips menyangkut penghakiman dan penyelamatan yang akan datang. Yang membedakannya adalah apokalips lahir dalam masa penindasan dan penganiayaan. Jadi, fokus perhatiannya bukan pada kegiatan Allah dalam sejarah baik yang sudah maupun yang sedang, tetapi memandang ke depan di mana Allah akan mengakhiri sejarah dunia ini dan menghakiminya.
  2. Kitab-kitab apokalipsis merupakan karya sastra. Para nabi dalam PL merupakan jurubicara Allah yang menyampaikan Firman Allah secara lisan dan dikemudian hari dituliskan sehingga menjadi sebuah kitab. Apokalips mempunyai bentuk khusus, penulis langsung menuliskan apa yang didengar dan dilihatnya (“apa yang engkau lihat, tuliskanlah”, 1:19).
  3. Materi apokalipsis disampaikan dalam bentuk penglihatan dan mimpi, bahasanya tidak terlalu jelas dan simbolis. Juga menggunakan nama samaran dari tokoh-tokoh terkemuka.
  4. Materi apokalips sering berbentuk khayalan bukan kenyataan. Misalnya dalam Kitab Wahyu kita menemukan binatang yang berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh (Wah. 13:1), perempuan berselubung matahari (Wah. 12:1), dll.
  5. Karena apokalipsis merupakan sebuah bentuk sastra sehinga gayanya sangat formal. Hal ini ditandai dengan pembagian peristiwa dalam paket-paket yang rapi, bilangan-bilangan yang digunakan secara simbolis.

Persamaan Kitab Wahyu dengan sastra apokalipsis pada umumnya seperti yang diungkapkan di atas, menyisakan satu perbedaan yang sangat mencolok yaitu Kitab Wahyu tidak menggunakan nama samaran sebagaimana kitab-kitab apokalips pada umumnya. Penulis memperkenalkan diri dengan jelas kepada pembacanya (lih. 1:1, 4, 9; 22:8). Bila hal itu dilakukan maka bertentangan dengan perintah yang diperolehnya, “jangan memateraikan perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini, sebab waktunya sudah dekat” (22:10).

b.    Kitab Wahyu sebagai Nubuat

Yohanes menyebut kitabnya “kata-kata nubuat ini” (1:3; 22:18-19) dan menyatakan bahwa ia menderita karena kesaksian yang diberikan oleh Yesus adalah “roh nubuatan” (19:10). Dalam seluruh Kitab Wahyu roh nubuat ini berkumandang dari awal hingga akhir. Nubuatan dalam Kitab Wahyu terarah kepada kedatangan Kristus kedua, sedangkan nubuatan dalam Perjanjian Lama terarah pada kedatangan Kriatus pertama. Kitab Wahyu juga memiliki arti menyeluruh menyangkut, bukan hanya masa depan tetapi meliputi pewahyuan yang telah Allah berikan.

“Nubuat Kitab Wahyu menyatakan kemenangan Kristus atas kejahatan, dan pemerintahan-Nya bersama umat-Nya. Pemerintahan-Nya bersifat sudah dan belum: sudah dalam prinsip dan, saat konsumasi, akan menjadi realitas sepenuhnya” (Wah. 11:15). Kitab Wahyu memberikan penghiburan dan pengharapan bagi orang Kristenn yang hidup di antara kedatangan Kristus pertama dan kedua. Sehingga Kitab Wahyu tidak boleh dibatasi hanya pada zaman Yohanes hidup, tetapi beritanya diperuntukkan bagi setiap orang percaya yang membaca kitab ini, ia tidak dibatasi waktu kosmis.

c. Kitab Wahyu Sebagai Surat Kiriman

Kitab Wahyu yang mengandung unsur apokaliptik dan nubuat ini telah ditulis dalam bentuk surat yang ditujukan kepada tujuh jemaat di Asia Kecil. Oleh karena itu, Kitab Wahyu sebagai surat kiriman memiliki unsur tak berkala. Kitab Wahyu muncul oleh karena peristiwa khusus yang pernah terjadi di zaman Yohanes pada abad pertama baik oleh dorongan dari pihak pembaca maupun dari pihak penulis. Oleh karena itu, dalam menafsirkannya harus mengerti konteks historis yang semula.

5. BERBAGAI RAGAM PENAFSIRAN

A. Metode Penafsiran Kitab Wahyu

Berdasarkan faham yang dipegang untuk menafsirkan Kitab Wahyu, telah menghasilkan empat metode dan mewakili empat golongan dalam memahami kitab yang unik ini.

1. Preteris

Kata preteris merupakan kombinasi dari dua kata Latin: praeter (lampau) dan ire (pergi). Dengan demikian dapat diartikan sebagai sesuatu yang telah berlalu dan menjadi milik masa lalu. Golongan ini menafsirkan Kitab Wahyu dan segala simbolismenya hanya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian pada waktu kitab ini ditulis. Segala sesuatu yang tercatat dalam Kitab Wahyu telah tergenapi pada abad pertama karena hanya berkaitan dengan masa itu, sehingga tidak ada hubungannya dengan masa kini maupun masa yang akan datang. Dengan demikian, faham ini menolak unsur nubuat yang ada dalam kitab ini dan hanya memfokuskan perhatiannya pada peristiwa historis abad pertama.

Model penafsiran ini tidak bisa diterima sepenuhnya. Pertama-tama yang harus dipahami berkaitan dengan metode penafsiran ini (bahkan harus diterima) adalah bahwa penulis menunjukkan kitab ini kepada jemaat pada abad pertama dan mereka memahami segala lambang dan simbol-simbol dalam kitab ini. Berikut ini adalah keberatan terhadap teori ini.

(1)   Penganut paham ini kurang menghargai progresifitas Kitab Wahyu yang akan mencapai puncaknya pada kedatangan Sang Hakim untuk mengadili semua orang. Progresifitas ini tidak hanya menunjuk pada abad pertama atau awal abad kedua.

(2)   Kaum preteris memandang Kitab Wahyu hanya bermakna bagi orang percaya abad pertama yaitu di mana kitab ini dialamatkan, sehingga kurang bermakna bagi orang percaya yang hidup setelah itu. Hal ini tidak dapat diterima, sebab kita yang hidup pada zaman ini dihiburkan oleh suara Kristus dan kemenangan-Nya sebagaimana orang Kristen yang dianiaya pada abad pertama dihiburkan oleh kitab ini.

(3)   Golongan ini menafsirkan binatang dalam Wahyu 13:18, khususnya angka 666, sebagai Nero. Penganiayaan yang dialami jemaat tidak terbatas pada satu periode pemerintaha kaisar saja, lagipula angka 666 tidak sesuai dengan nama Nero.

(4)   Penganut preteris menganggap bahwa Kitab Wahyu ditulis sekitar 65 M, sehingga seharusnya kehidupan jemaat menunjukkan ketaatan sepenuh hati kepada Tuhan. Sebab dalam periode 50-an – 60-an M, Paulus mendirikan jemaat di Efesus dan tugas penggembalaan kemudian diteruskan oleh Timotius. Paulus juga pernah menuliskan suratnya kepada jemaat di Efesus yang sedang megalami pertumbuhan dan perkembangan. Sementara situasi yang digambarkan dalam Kitab Wahyu menunjukkan kehidupan jemaat yang kembali pada kebiasaan yang dulu, sebelum bertobat.

2. Historis

Golongan historis menafsirkan Kitab Wahyu sebagai ikhtisar sejarah gereja dari hari Pentakosta sampai konsumasi. Setiap lambang dan simbol dalam Kitab Wahyu merupakan gambaran peristiwa yang akan terjadi dalam sejarah gereja. Sehingga ada usaha untuk mencocok-cocokkan setiap tokoh yang ditemukan dalam sejarah gereja dengan lambang  dan simbol dalam kitab ini. Dengan demikian Kitab Wahyu menjadi bayangan sejarah gereja dan kitab ini pun menjadi semacam kalander peristiwa yang akan terjadi. Akan tetapi para ahli yang berpegang pada metode ini tidak menemukan kata sepakat tentang arti dari masing-masibng simbol.

Keberatan terhadap pandangan ini.

(1)   Literatur apokaliptik tidak mengikuti peristiwa sejarah secara kronologis dan Kitab Wahyu (satu-satunya kitab apokaliptik Kristen) tidak menyajikan peristiwa sejarah yang berkesinambungan.

(2)   Usaha untuk menghitung-hitung peristiwa sejarah berdasarkan angka-angka adalah menyesatkan. Usaha tersebut dilakukan dengan menggunakan khayalan dan tidak menghargai Firman Tuhan.

3. Futuris

Menurut pandangan futuris tiga pasal pertama dalam kitab ini adalah berhubungan dengan jemaat di mana kitab ini ditujukan. Dalam hal ini futuris sependapat dengan preteris. Akan tetapi pasal 4-22 terjadi di masa yang akan datang. Kalimat “Setelah itu aku melihat” (TB2 LAI) menjadi dasar argumen ini. Setiap nubuat dalam Kitab Wahyu akan digenapi sebelum Kristus kembali. Dalam hal ini golongan futuris sama dengan historis. Penafsiran futuris bersifat eskatologis yang menekankan kedatangan Kristus kembali.

Keberatan terhadap pandangan ini.

a. Kecuali tiga pasal pertama, membuat Kitab Wahyu tidak relevan terhadap jemaat abad pertama, sementara kitab ini ditujukan kepada mereka.

b. Jika segala hal yang dikisahkan menunjuk pada masa sebelum Kristus kembali, maka nubuat tersebut hanya berlaku bagi orang percaya yang menyaksikan peristiwa konsumasi. Sementara penulis menunjukkan kitab ini kepada jemaat abad pertama dan bagi seluruh gereja di segala abad.

4.    Idealis

Kelompok idealis menafsirkan Alkitab sebagai kitab prinsip, yang mengontroskan Kristus dan umat-Nya yang menang atas Iblis dan para pengikutnya yang kalah. Kitab Wahyu bukan tidak berbicara tentang peristiwa masa lalu atau nubuat tentang peristiwa yang akan datang tetapi berhubungan dengan kehidupan umat Kristen di segala zaman, sejak zaman Yohanes hingga akhir zaman. Penafsiran ini tidak mengabaikan sejarah berhubungan dengan konteks Yohanes sendiri dan nubuat yang dikumandangkan dalam Kitab Wahyu. Golongan idealis mengakui bahwa Kitab Wahyu terkait dengan latar sejarah gereja abad pertama dan kedua tetapi juga penderitaan yang dialami orang percaya pada zaman ini tercermin di dalam Kitab Wahyu. Berhubungan dengan nubuat dalam kitab ini, golongan idealis menganggap bahwa nubuat sedang digenapi dalam perjalanan waktu dan sepenuhnya digenapi pada saat konsumasi ketika Yesus datang kembali.

B.   Penafsiran Hermeneutik

Ada tiga pandangan utama yang berbeda sehubungan dengan waktu kedatangan Kristus kembali. Hal ini terkait dengan masa “seribu tahun” pemerintahan Kristus yang terdapat dalam Wahyu 20:1-6. Apakah masa tersebut terjadi sebelum kedatangan Kristus (parousia) atau terjadi setelah Kristus datang? Ataukah periode ini menunjuk pada rentang waktu yang tidak tentu dari kedatangan Kristus yang pertama, sekarang sedang berlangsung, hingga kedatangn Kristus kembali. (Pandangan-pandangan tentang masa “milenium” (seribu tahun) akan dibahas panjang lebar dalam mata kuliah dogmatika (eskatologi). Pembahasan dalam Kitab Wahyu ini hanya berhubungan dengan penafsiran 20:1-6).

1.    Premilenialisme

Golongan premilenialisme memahami Wahyu 19:11-21:8, tidak mengandung peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum kedatangan Yesus. Jadi Yesus datang sebelum masa seribu tahun itu atau dengan kata lain, masa seribu tahun terjadi setelah Yesus datang kembali.

Kristus Kembali

Zaman Gereja                            Milenium                  Kekekalan

————————————|———————————-|——————————–

2.        Postmilenialisme

Kerajaan seribu tahun terjadi sebelum kedatangan Kristus kembali, atau dengan kata lain Kristus datang sebelum masa seribu tahun tersebut. Argumentasinya berdasarkan ayat ini adalah “tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya” (Why. 20:6), menunjuk kepada orang-orang percaya yang masih hidup di dunia. Kebangkitan pertama dalam ayat ini adalah kelahiran baru yang dialami orang-orang percaya selama mereka masih hidup di dunia ini, dan “takhta” dalam ayat 4 mempunyai makna figuratif yaitu menggambarkan pemerintahan Kristus bersama-sama dengan orang percaya yang akan berlangsung di dunia ini.

Kristus kembali

Zaman Gereja >> milenium                                                      hidup yang kekal

——————————————————|——————————————                                                                                                                                                                                                                                                 Kebangkitan semua orang                                                                                                                                                                                                                           Penghakiman

Langit/bumi baru

3. Amilenialisme

Menurut Hoekema, sebenarnya istilah ‘amilenialisme’ bukan istilah yang tepat, karena menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang amilenialis tidak mempercayai adanya masa seribu tahun. Karena itu, Jay E. Adams telah mengusulkan istilah ‘milenialisme yang telah terwujud’ (realized millennialisme). Tetapi karena istilah amilenialisme sudah umum dipakai, lebih baik istilah itu tidak digantikan dengan istilah yang lain.

Milenium sedang berlangsung Kristus

Zaman Gereja                           kembali           Hidup yang kekal

————————————————|————————————————–

Kebangkitan semua orang

Penghakiman

Langit/bum

6.    Kitab Wahyu Berdasar pada Kitab Suci

Berdasarkan metode penafsiran yang telah dikemukakan di atas mengungkapakan bahwa tidak ada kesepakatan terhadap metode penafsiran Kitab Wahyu. Lalu bagaimana metode yang tepat untuk menafsirkan Kitab Wahyu yang penuh dengan lambang-lambang dan simbol-simbol itu?

Menafsirkan Kitab Wahyu, selain memperhatikan latar belakang kontemporer, juga penting sekali memperhatikan seluruh konteks Alkitab, terutama Perjanjian Lama. Hal ini didasarkan pada Kitab Wahyu itu sendiri yang mengutip dari PL terutama kitab-kitab para nabi. Dilihat dari isinya, Kitab Wahyu juga sejalan dengan kitab para nabi PL yang memberikan peringatan untuk zamannya sendiri. Dalam PL para nabi selalu berbicara kepada bangsa Israel oleh karena tuntutan situasi mereka sendiri dan berbagai godaan rohani dalam lingkungan mereka. Demikian halnya dengan Kitab Wahyu, berbicara tentang kehidupan jemaat di Asia Kecil pada zaman Yohanes, untuk memberikan penghiburan kepada mereka.

Kitab Wahyu mengutip hampir seluruh kitab-kitab dalam PL kecuali Rut, Pengkhotbah, dan Hagai. Berdasarkan hal ini, kita harus waspada bahwa Yohanes tidak menyalin ulang kitab-kitab tersebut. Apa yang dituliskan Yohanes berdasarkan wahyu yang ia terima, ia menerima penglihatan dan menuliskannya. Pengutipan tersebut dilakukan dengan modifikasi yang menghasilkan bentuk-bentuk yang baru. Sehingga ketika kita menafsirkan Kitab Wahyu penting untuk mmperhatikan keserasiannya dengan PL.

Berikut ini kutipan yang tidak lengkap dari PL dari Kitab Wahyu dengan bagian kutipan dicetak miring:

  • 1:7: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di Bumi akan meratapi Dia” (Dan. 7:13; Za. 12:10)
  • 2:27: “Ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk” (Mzm. 2:9)
  • 4:8: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa” (Yes. 6:3; Am. 3:13)

Ayat-ayat lain kutipan PL: 6:16 (Hos. 10:8), 7:16 (Yes. 49:10), 7:17 (Yes. 25:8), 11:11 (Yeh. 37:5, 10), 14:5 (Zef. 3:13; Yes. 53:9), 15:3a Mzm. 111:2), 15:3b (Ul. 32:4; Mzm. 145:17; Yer. 10:7), 15:4 (Yer. 10:7; Mzm. 86:9), 19:15 (Mzm. 2:9), 20:9 (2Raj. 1:10, 12), 21:4 (Yes. 25:8), 21:7 (2Sam. 7:14).

Jika kita melihat Perjanjian Baru maka dalam Kitab Wahyu ada banyak yang paralel. Perhatikan misalnya:

Why. 1:3 – Mat. 24:6; Luk. 21:9                                                                                                                                                                                                                                                                                             Why. 12:9 – Luk. 10:18

Why. 1:5 – Kol. 1:18                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Wyh. 13:8 – 1Ptr. 1:19-20

Why. 1:7 – Mat. 24:30                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Why. 16:19 – 1Ptr. 5:13

Why. 2:20-24 – Kis. 15:28                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Why. 18:4 – 2Kor. 6:17; Ef. 5:11, dll.

Dengan memperhatikan hal ini, Kitab Wahyu memperlihatkan dirinya sebagai puncak Kitab Suci. Sehingga dalam penafsirannya harus melihat dalam terang kitab-kitab lain. Kitab Wahyu berpusat kepada kedatangan Kristus yang merupakan suatu kepastian.

7.    Paralelisme Progresif: Pengajaran tentang Penghakiman Terakhir

Metode penafsiran yang menurut saya cukup memuaskan terhadap Kitab Wahyu adalah sebuah pendekatan yang disebut paralelisme progresif. Menurut metode ini, Kitab Wahyu terbagi dalam tujuh bagian. Tujuh bagian tersebut tidak berdiri sendiri tetapi bersifat parelel sama sama lain. Masing-masing paralel tersebut menggambarkan sejarah gereja Tuhan sejak kedatangan Kristus pertama hingga kedatangan-Nya yang kedua.

Ketujuh Paralel

  1. Kristus di tengah-tengah kaki dian dari emas (1-3)

Paralel pertama menggambarkan bagaimana Yohanes melihat Kristus yang telah dibangkitkan berjalan di tengah-tengah kaki dian emas di mana kaki dian itu mewakili tujuh jemaat (1:20). Kepada ketujuh jemaat itulah Yohanes menulis suratnya. Ketujuh jemaat itu menggambarkan kondisi-kondisi jemaat yang akan terus terulang  dalam kehidupan aktual jemaat di sepanjang sejarah gereja. Hal ini didasarkan pada kemunculan angka tujuh yang sangat sering dalam Kitab Wahyu. Angka tujuh itu sendiri melambangkan kesempurnaan sehingga tujuh jemaat tersebut menunjuk pada seluruh jemaat yang terbentang sepanjang masa dari kedatangan Kristus yang pertama (1:5) sampai kedatangan Kristus yang kedua (1:7).

Paralel pertama ini memberikan berbagai informasi menyangkut berbagai peristiwa, pribadi, dan tempat ketika kitab ini ditulis.

2. Gulungan kitab dengan tujuh materai (4-7)

Pasal 4 menceritakan tentang takhta Allah di sorga dan penyembahan dari orang-orang yang mengelilinginya. Seorang yang duduk di atas takhta tersebut sedang memegang gulungan. Gulungan tersebut tidak dibukakan oleh sembarang orang, Anak Dombalah yang membuka gulungan tersebut dan Ia menerima penyembahan (psl. 5).

Bagian ini juga menunjuk pada rentang waktu antara kedatangan Kristus pertama hingga kedatangan kedua. Hal ini diungkapkan oleh frasa “dia yang telah disembelih” (5:6) menunjuk pada kehidupan Yesus ketika masih di dunia dan air kehidupan (7:17) yang akan diberikan kepada orang-orang yang telah dimateraikan, menunjuk pada masa yang akan datang. Ini adalah sebuah lukisan gereja yang berkemenangan di mana kemenangan itu akan direalisasikan sampai pada konsumasi besar itu.

3. Tujuh sangkakala penghukuman (8-11)

Bagian ini melukiskan tujuh sangkakala penghakiman, tetapi gereja dilindungi dan meraih kemenangannya. Pasal 10-11 melukiskan apa yang terjadi terhadap gereja. Pada bagian akhir (11:15-19) merujuk pada penghakiman akhir.

4. Perempuan dan Anak laki-laki dianiaya oleh naga dan para pembantunya (12-14)

Bagian ini mengulang kembali peristiwa dari kelahiran Sang Juruselamat (12:5) hingga pada kedatangan Kristus yang kedua dalam penghakiman (lht. 14:14-16). Jadi paralel ini meliputi seluruh era. Naga beserta pengikut-pengikutnya, binatang yang ke luar dari dalam laut (13:1), binatang yang keluar dari dalam Bumi (13:11-12), dan Babel, pelacur besar (14:8) terus berusaha membinasakan gereja sehingga pertentangan itu terus berlanjud hingga kedatangan Kristus kedua.

5. Tujuh cawan murka (15-16)

Seksi ini menceritakan tentang cawan-cawan murka. Bagian ini melukiskan penghakiman terakhir dan berbagai peristiwa yang akan terjadi berkaitan dengan penghakiman tersebut.

6. Jatuhnya pelacur besar dan kedua binatang (17-19)

Pasal 17-19 melukiskan kejatuhan Babel sebagai simbol kota duniawi, suatu gambaran kehidupan tanpa Allah dan musuh Kerajaan Allah. Penolong naga yang dilukiskan juga pada pasal 13 mengalami kekalahan. Pasal 19:11, berbicara tentang kedatangan Kristus kedus kali dan penghakiman akhir atas kedua penolong naga itu (19:19-20).

7. Penghukuman atas naga dan langit baru dan Bumi baru (20-22)

Paralel ke tujuh mengisahkan kekalahan Iblis, musuh Kristus, sebagai pokok baru pembicaraan. Iblis dilemparkan ke bawah dan dibelenggu selama seribu tahun dan untuk sedikit waktu ia akan dilepaskan sehingga ia kembali menyesatkan bangsa-bangsa. Pada akhirnya, ia juga akan dihukum, dilemparkan ke dalam lautan api untuk selama-lamanya.

Bagian akhir dari pasal 20 melukiskan penghakiman akhir bagi segala makhluk, setiap orang yang tidak ditemukan namanya dalam kitab kehidupan akan dilemparkan ke dalam lautan api. Setelah semuanya selesai, Kristus dan gereja-Nya mengalami kemenangan, maka seluruh ciptaan diperbaharui, jagat raya yang ada sekarang ini lenyap diganti dengan langit baru dan Bumi baru, Yerusalem Baru.

Paralelisme progresif mengajarkan perkembangan eskatologi yang pengungkapannya semakin jelas di bagian akhir. Setiap paralel mengajarkan progresifitas tersebut dan juga jika dilihat dalam keseluruhan kitab. Kitab Wahyu membentangkan peristiwa dari kedatangan pertama Kristus hingga kedatangan kedua dan di dalam prosesnya mengalami perkembangan dalam derajat kemajuan yang semakin jelas. Semakin kita mendekati akhir kitab ini, kita semakain diarahkan pada penghakiman terakhir ini. Tujuh seksi tersebut berada dalam urutan yang semakin memuncak menuju klimaksnya.

Jika kita perhatikan dalam 6:12-17, penghakiman terakhir telah digambarkan dengan singkat tetapi penggambaran tersebut terulang lagi dalam 20:11-15 dengan lebih rinci. Sukacita sorgawi yang dialami orang-orang percaya pada masa yang akan datang telah disebutkan dalam 7:15-17, tetapi gambaran demikian lebih lengkap dijelaskan dalam 21:1-22:5). Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa paralelisme progresif merupakan stuktur yang tidak boleh diabaikan dalam menafsirkan Kitab Wahyu.

Dua Bagian Utama

Kitab Wahyu menggambarkan pergumulan Kristus dengan gereja-Nya di satu pihak dan di pihak lain berada musuh-musuh Kristus. Maka dengan demikian ketujuh seksi tersebut dapat dibagi dalam dua bagian utama.

a. Pasal 1-11: Gambaran tentang pergumulan di dalam dunia.

Bagian ini meliputi tiga seksi yaitu 1-3, 4-7, dan 8-11. Dalam bagian ini kita melihat pergumulan di antara manusia, orang-orang beriman dan orang-orang tidak beriman. Dunia menyerang gereja tetapi gereja dilindungi, dibalaskan, dan akhirnya menang.

b. Pasal 12-22: Latar belakang rohani yang lebih dalam.

Bagian ini meliputi empat seksi yaitu 12-14, 15-16, 17-19, dan 20-22. Pergumulan yang digambarkan dalam bagian ini adalah manifestasi dari pergumulan dalam bagian pertama dan menjadi latar belakangnya.

Bagian kedua menggambarkan konflik antara Kristus dan naga yang mana sebenarnya berada di bawah pergumulan yang dihadapi oleh gereja. Jadi peristiwa tersebut terjadi dengan pola penggambaran yang menuju perkembangan dan intensitas yang lebih dalam.

Pembagian yang telah kita lakukan tidak memecahkan Kitab Wahyu. Melalui pembagian-pembagian tersebut, kita memahami kaitan-kaitan antara berbagai hal dalam kitab ini. Sehingga bukan pembagian yang terjadi tetapi kesatuan kitab inilah yang terungkap.

Literatur:

Boersma, T. J., Alkitab Bukan Teka-teki, Surabaya: Momentum, 2004; de Heer, J. J., Tafsiran Alkitab: Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003; Fee, Gordon D., Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat, Malang: Gandum Mas, 2006; Groen, Jakob P. D., Aku Datang Segera: Tafsiran Kitab Wahyu, Surabaya: Momentum, 2002; Guthrie, Donald, Pengantar Perjanjian Baru 3, Surabaya: Momentum, 2009; Hendriksen, William, Lebih dari Pemenang: Sebuah Interpretasi Kitab Wahyu, Surabaya: Momentum, 2008; Hoekema, Anthony A., Alkitab dan Akhir Zaman, Surabaya: Momentum, 2004; Kistemaker, Simon J., Tafsiran Kitab Wahyu, Surabaya: Momentum, 2009; Ladd, George E., Teologi Perjanjian Baru, jilid 2, Bandung: Kalam Hidup, 2002; Marsunu, Y. M. Seto (ed.), Apokaliptik: Kumpulan Karangan Simposium Ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007; Marxsen, Willi, Pengantar Perjanjian Baru: Pendekatan Kritis Terhadap Masalah-masalahnya, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008; Russell, D. S., Penyingkapan Ilahi: Pengantar ke dalam Apokaliptik Yahudi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007; Sutanto, Hasan, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (ed. rev.), Malang: Literatur SAAT, 2008; Tenney, Merrill C., Survei Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 2006; Witherington III, Ben, Apa yang Telah Mereka Lakukan pada Yesus? Bantahan terhadap Teori-teori Aneh dan Sejarah “Ngawur” tentang Yesus, Jakarta: Gramedia, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s